Road Barrier

Water Barrier Pembagi Lajur atau Jalur Sementara

Pembagi Lajur atau Jalur Sementara ( Water Barrier )
Water Barrier berfungsi mengatur lalu lintas dengan jangka waktu sementara dan membantu untuk melindungi pengendara, pejalan kaki dan pekerja dari daerah yang berpotensi tinggi akan menimbulkan kecelakaan.Water Barrier biasanya digunakan sebagai pembatas jalan atau pembagi ruas jalan para pengguna jhalan raya dan juga sebagai pembagi jalan alternatif atau jalan utama.Water Barrier dipasang pada area median jalan raya untuk mencegah kendaraan memasuki jalur lalu lintas yang berlawanan arah untuk mencegah terjadinya tabrakan dari kedua sisi dan membantu untuk meredam benturan jika terjadi tumbukan.Water Barrier ini dapat diisi dengan air sebagai pemberat dan dapat dikosongkan bila akan dipindahkan atau disimpan.

Pemeliharaan Water Barrier
Untuk menjaga kondisi Water Barrier agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya, maka :
1. Segala benda-benda yang ada disekitar water barrier yang dapat mengakibatkan berkurangnya arti dan fungsinya harus dihilangkan/disingkirkan;
2. Water Barrier jalan yang harus dibersihkan sehingga tampak jelas sekali;
3. Meluruskan kembali Water Barrier yang bengkok sehingga kembal ke keadaan semula;
4. Secepatnya diganti Water Barrier yang baru bila terjadi kehilangan sama sekali atau rusak yang tak mungkin dapat diperbaiki lagi.

Rambu Lalu Lintas

Tata Cara Penempatan dan Pemasangan Rambu Lalu Lintas

Tata Cara Penempatan dan Pemasangan Rambu Lalu Lintas
a. Tata cara penempatan rambu lalu lintas mengacu pada Keputusan Mentri Perhubungan Nomor: KM 61 Tahun 1993 tentang Rambu – Rambu Lalu Lintas Jalan;
b. Khusus RPPJ yang menunjukkan lokasi/tempat (warna dasar hijau huruf putih) harus memperhatikan hal-hal berikut:
1) Menunjuk lokasi yang umum dan perlu bagi masyarakat seperti bandara, rumah sakit, nama kota, situs, dan lain-lain yang sejeis;
2) Lokasi yang ditunjuk bersifat tetap atau tidak berubah-ubah dalam waktu panjang;
3) Untuk RPPJ yang menunjuk 2 (dua) atau lebih tempat/kota yang letaknya berurut berlaku ketentuan tempat/kota yang paling dekat dituliskan paling atas diikuti tempat/kota yang lebih jauh dibawahnya dan yang paling jauhdibawahnya lagi.

Tata Cara Pemasangan
Pemasangan rambu lalu lintas jalan meliputi kegiatan :
a. Peletakan daun rambu pada tiang rambu;
Daun rambu yang telah di lapisi dengan lembaran reflektif, diletakkan pada tiang rambu dengan menggunakan baut yang dikencangkan.
b. Pembuatan pondasi dan peletakan rambu untuk rambu tiang tunggal dengan syarat :
1) Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing-masing berukuran :
a) Pengecoran di luar
(1) Sisi bagian atas : 250 mm
(2) Sisi bagian bawah :400 mm
(3) Kedalaman : 600 mm
b) Pengecoran setempat
(1) Sisi Bagian atas : 250 mm
(2) Sisi bagian bawah : 500 mm
(3) Kedalaman : 500 mm

2) Bagian tiang rambu yang terbenam pada pondasi sedalam 600 mm;
3) Bagian dasar galian pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan dengan ketebalan 100 mm;
4) Pondasi beton kurang lebih setara dengan Beton Mutu K-175 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 175 kg/ cm 2;
5) Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 100 mm.

c. Pembuatan pondasi dan peletakan rambu sebagaimana untuk jenis konstruksi tiang rambu tiang f, kupu-kupu:
1) Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing-masing berukuran :
– Sisi bagian atas : 600 mm;
– Sisi bagian bawah : 600 mm;
– Kedalaman : 1150 mm.
atau disesuaikan dengan ukuran rambu

2) Bagian dasar pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan setebal 150 mm.
3) Pondasi beton ukuran lebih setara dengan Beton Mutu K- 250 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 250 kg/ cm2 dengan ukuran 600x600x1000 mm.
4) Pada bagian atas pondasi dipasang plat logam sejenis dengan tiang rambu ukuran 400x400x12 dan panjang 600 mm.
5) Pondasi untuk rambu dengan ukuran dan bentang rangka baja yang besar disesuaikan dengan kondisi kekuatan daya dukung tanah setempat serta beban yang terjadi sehingga dapat dipertanggungjawabkan kekuatannya;
6) Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 200mm atau disesuaikan dengan permukaan tanah dan jalan.

d. Pembuatan pondasi dan peletakan rambu sebagaimana untuk jenis konstruksi tiang rambu portal (ukuran bentang 18m):
1) Ukuran pondasi rambu dibentuk dengan papan untuk bekesting dan setiap tiang masing masing berukuran :
– Sisi bagian atas : 800 mm;
– Sisi bagian bawah : 800 mm;
– Kedalaman : 1950 mm.
atau disesuaikan dengan ukuran bentang portal
2) Bagian dasar Pondasi diberi lapisan pasir yang dipadatkan setebal 150 mm.
3) Pondasi beton kurang lebih setara dengan Beton Mutu K-250 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 250 kg/cm2 dengan ukuran 800 x 800 x 1800 mm.
4) Pada bagian atas pondasi dipasang plat logam sejenis dengan tiang rambu ukuran 650x650x22mm serta 6 buah angkur baut dengan diameter 22mm dan panjang 1000 mm.
5) Pondasi untuk rambu dengan ukuran dan bentang rangka baja yang besar disesuaikan dengan kondisi kekuatan daya dukung tanah setempat serta beban yang terjadi sehingga dapat dipertanggungjawabkan kekuatannya;
6) Bagian pondasi diatas permukaan tanah setinggi 200 mm atau dengan permukaan tanah dan jalan.

Pemasangan Pagar Pengaman Jalan

Pemasangan Pagar Pengaman Jalan
a. Pemasangan Tiang Penyangga
1) Pembuatan lubang pondasi kedalaman dan dasar lubangnya disesuaikan dengan gambar (1.145 x 600 x 600) mm;
2) Pada bagian tiang yang tertanam ditanah harus dipasang angkur paling sedikit 3 (tiga) buah;
3) Untuk melindungi tiang dari kemungkinan turun, dasar lubang harus dikeraskan dengan lapisan pasir padat minimal setebal 100 mm;
4) Tiang penyangga harus dipasang pada posisi tegak lurus;
5) Lubang dicor dengan Pondasi beton kurang lebih setara dengan Beton Mutu K-175 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 175kg/cm2
6) Tanah di pinggir pondasi dipadatkan dengan alat pemadat (Stamper)
7) Bagian pondasi yang menonjol diatas permukaan tanah 100 mm.
Pemasangan tiang penyangga merupakan pekerjaan pemasangan pagar pengaman yang harus dilakukan secara cermat dan teliti, untuk itu perlu pemeriksaan ketinggian dan jarak sampai akurasi 10mm (1cm).

b. Pemasangan lempengan besi
1) Lempengan besi direntangkan antara 3 (tiga) tiang dan lubang tempat penyambungan diletakan sesuai dengan pemasangannya.Bila menggunakan besi siku penyambung (bracket), besi ini diletakan pada tempatnya;
2) Setiap 2 (dua) lempengan besi yang berdampingan diikat pada satu tiang dengan menggunakan baut dan mur yang sesuai untuk pengaman baut dapat dibengkokkan atau dilas;
3) Apabila pada kondisi dimana penempatan pagar pengaman jalan menikung agar menggunakan lempengan besi (Beam) yang melengkung untuk memudahkan pengikatan lempengan besi (beam) pada tiang (post) yang dikombinasiokan dengan pemasangan rambu “Chevron” disesuaikan dengan bentuk tikungan.
4) Semua baut yang terpasang harus dimatikan sehingga tidak bisa lepas.

c. Pada kedua ujung pagar pengaman jalan dapat dilekukan sampai permukaan tanah atau diberi pengaman untuk keselamatan pemakai jalan.

d.Pemeriksaan Akhir
1) Kekuatan berdirinya tiang penyangga
2) Ketepatan penyambungan antara lempeng besi dengan lempengan besi atau lempengan besi dengan lengan lempengan besi (Sleeve Beam)

5. Umur Teknis Pagar Pengaman Selama 5 Tahun

Cara Pemasangan Alat Pemberi Isyarat  Lalu Lintas

Cara Pemasangan Alat Pemberi Isyarat  Lalu Lintas
1) Pipa pelindung
Untuk pemasangan pipa pelindung kabel (Duct) adalah sebagai berikut
a) Pipa dapat dipasang sebelum atau selama pemasangan kabel.
b) Pipa harus diletakkan seluruh mungkin dan sambungan antar pipa harus kuat untuk mencegah pergeseran bagian bagian yang disambung yang dapat mengakibatkan kerusakan kabel.
c) Setiap ujung pipa harus dengan kuat atau bahan lainnya yang tak mudah terhapus oleh tanah guna mencegah hilangnya tanda pipa
d) Galian pipa dibawah jalan yang mulai berakhir dijalur pejalan kaki sepadat mungkin berjarak 70 cm dari tepi jalur kendaraan.
e) Pipa diletakkan 80 cm dibawah permukaan jalan.
f) Bagian dalam pipa harus tetap bersih sebelum maupun setelah penarikan kabel, untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar terlampir.

2) Tiang Lampu Pengatur Lalu Lintas
Sebelum pemasangan tiang harus dicat terlebih dahulu dengan cat menie besi dengan Cara Pemasangan adalah
a) Tiang alat pemberi isyarat lalu lintas dipasang dengan jarak terlampir.
b) Tiang pemberi isyarat lalu lintas dipasang dengan jarak 100 cm dari permukaan pembelokan tepi jalan seperti gambar terlampir.
c) Ukuran standar tiang dan pondasi selengkapnya sesuai dengan gambar terlampir.
d) Untuk berbagai keadaan jalan, pemasangan tiang alat pemberi isyarat lalu lintas seperti gambat terlampir.

3) Rumah Perangkat Kendali Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas
Rumah perangkat kendali alat pemberi isyarat lalu lintas dipasang diatas bantalan beton tak bertulang dan berongga dengan penyangga kerangka besi sebagai berikut :
a) Bantalan beton kurang lebih setara dengan Beton Mutu K-175 atau dengan kata lain mempunyai kuat tekan 175kg/cm2
b) Lebar, panjang, dan dalam dari bantalan beton yang berada di dalam tanah masing-masing adalah 30, 60 dan 70 cm dari permukaan tanah.
c) Tinggi dari bantalan beton yang berada dari atas permukaan tanah 50 cm atau harus lebih tinggi dari ketinggian air banjir didaerah itu, hali ini untuk mencegah kerusakan perangkat kendali yang disebabkan dari masuknya air banjir ke rumah perangkat kendali Lampu Pengatur Lalu Lintas.
d) Bantalan beton dilapisi dengan lempengan beton ukuran 35, 80 dan 5 cm masing masing untuk lebar, panjang dan tinggi.
e) Dibawah alas beton diberi lapisan pasir halus yang telah disaring setena; 25 cm.
f) Rongga bantalan mempunyai ukuran panjang dan lebar masing masing 50 dan 10 cm sedang tingginya tergantung tinggi bantalan beton tersebut.
g) Rongga adalah tempat kabel-kabel yang dari dan ke alat kendali pemberi isyarat lalu lintas dan diisi dengan pasir yang sudah disaring.
h) Ukuran ukuran selengkapnya dari rumah kendali alat pemberi isyarat lalu lintas adalah seperti lampiran spesifikasi teknis ini.

4) Patok Pengaman
a) Patok pengaman diletakkan 50 cm dari tiang alat pemberi isyarat lalu lintas atau perangkat kendali alat pemberi isyarat lalu lintas dengan sedemikian rupa sehingga tiang alat pemberi isyarat lalu lintas aman dari kendaraan yang oleh sebab keluar dari jalur kendaraan.
b) Jumlah patok pengaman paling sedikit 3 (tiga) buah untuk setiap alat pemberi isyarat lalu lintas.

5) Lampu Aspek
Dalam pemasangan lampu aspek agar tidak menyimpang dari Surat Keputusan Mentri Perhubungan Nomor KM. 62 Tahun 1993, dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Disusun berderet dari atas kebawah dengan urutan warna merah, kuning dan hijau untuk lampu isyarat kendaraan atau horizontal maka lampu disusun dari kiri ke kanan menurut arah lalu lintas dengan urutan merah, kuning dan hijau dan urutan warna merah dan hijau untuk lampu isyarat pejalan kaki
b) Lampu panah untuk belok pada dasarnya adalah tambahan, untuk itu selalu dipasang berdampingan dengan lampu lurus dan peletakkannya sedimikian rupa sehingga lebih mencolok kedepan daripada lampu lurusnya yang akan mudah terlihat.

6) Kabel tanah
a) Kabel diletakkan didalam pipa pelindung kabel yang ditanam 80 cm dibawah permukaan jalan tanah.
b) Kabel tenaga dan kabel untuk isyarat harus diletakkan didalam yang terpisah untuk mencegah interferensi
c) Selain sebagai overhead lampu aspek sebagai tambahan dapat juga dipasang di sebrang ujung kaki persimpangan.
d) Kabel yang diletakkan didalam pipa pelindung mengambil tempat tidak boleh lebih dari 70 % seluruh luas pipa bagian dalam.
e) Ditempat-tempat yang diperlukan seperti tempat sambungan dan terminal agar kabel dilebihkan kurang lebih 50 cm.
f) Kabel harus diberi tanda pada tempat seperti
(1) Kedua ujung kabel
(2) Sambung kabel
(3) Kabel untuk disambung pada peralatan
(4) Kedua ujung dari pipa pelindung
g) Diatas pipa pelindung kabel diberi tanda batu bata merah dengan jarak 5 cm dari pipa pelindungkabel yang dipasang melintang, untuk mencegah kerusakan pipa pelindung bila ada penggalian susulan dan sebagai peringatan penggali, bahwa dibawah batu bata merah ada kabel
h) Tidak diperkenankan menyambung kabel didalam tanah, terutama dibawah tanah.

7) Kabel tenaga dipasang sebagai Toever dari jaringan distribusi PLN yang terdekat, bila diperlukan pemasangan.


8) Pada tiang alat pemberi isyarat lalu lintas dibubuhi Sticker perlengkapan jalan tulisan sumber pendanaan, tahun anggaran dan isi pasal 275 UU Nomor 22/2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, contoh gambar sticker terlampir, dengan posisi mudah terlihat.

Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas

Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas
Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas adalah perangkat elektronik yang menggunakan isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan atau pada ruas jalan.

Spesifikasi Teknis
1. Kondisi Kerja
a. Suhu Keliling : 5 s/d 70 derajat C
b. Kelembaban nisbi : 0s/d 95%

2. Spesifikasi Teknis Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas
a. Menggunakan sistem modul sehingga mempermudah dalam perawatan , perbaikan dan pengembangan dengan menggunakan konektor yang memenuhi kualitas standar yang ada.
b. Mempunyai kemampuan untuk mengatur lalu lintas minimal dengan dasar 8 kelompok sinyal untuk kendaraan dan 8 kelompok sinyal untuk pejalan kaki yang dapat dikembangkan sampai 32 kelompok sinyal atau lebih.

3. Mempunyai Kemampuan Untuk :
a. 4(empat) Program penyalaan yang dapat dikembangkan sampai 16(enambelas) program penyalaan atau lebih.
b. Pemindahan program dan kedip secara otomatis baik dengan elektronik penuh, switch secara mekanik atau secara manual.
c. Maksimum dari siklus penyalaan skala besar dalam 3(tiga) digital desimal.
d. Mempunyai kemampuan program tunggal/single program tetap dan atau multi program serta flashing.
e. Harus dilengkapi alat pemula kerja program penyalaan pengatur lampu lalu lintas dimana lampu kuning/ambar harus menyala kedip kuning/ambar semua, masing-masing dengan waktu yang dapat diprogram
f. Penyalaan program waktu, setiap aspek lampu warna dapat diprogram waktunya.
g. Dilengkapi dengan peralatan pengendali manual yang dapat dikendalikan oleh petugas untuk perpanjangan dan memperpendek lampu hijau serta kedip.
h. Mempunyai lampu indikator yang bekerja bila keadaan fault.
j. Mempunyai fasilitas untuk pengaman arus lebih yang menggunakan mini circuit breaker dan pengaman terhadap arus bocor menggunakan earth leakage circuit breaker serta dilengkapi pengaman dari gangguan petir.
k. Bekerja pada tegangan minimal 220 volt.
l. Dapat dibebani lampu pijar maupun halogen minimal 600 VA persignal atau lampu jenis LED.
m. Dapat dikoordinasikan dengan alat sistem APILL Terkoordinasi (ATCS) seperti detektor dan display info simpang.

*Spesifikasi Teknis Alat Pemberi ISyarat Lalu Lintas Pejalan Kaki
Sama dengan spesifikasi teknis alat pemberi isyarat lalu lintas kendaraan tetapi dengan jumlah kelompok sinyal khusus untuk pejalan kaki.Dapat dilengkapi dengan peralatan kendali manual yang dapat dikendalikan oleh setiap penyebrang jalan dengan mudah, untuk meminta nyala lampu hijau.

*Syarat Bahan dan Konstruksi
A. Satu unit alat pemberi isyarat lalu lintas terdiri dari :
1) perangkat kendali.
2) perangkat lampu aspek.
3) tiang/penyangga, dan
4) Kebel Instalasi.
5) Kendali (Controller)
6) Lampu
7) Dan dilengkapi dengan alat pendeteksi kendaraan (vehicle detektor);dan/atau Display Info Simpang (DIS)

B. Rumah Perangkat Kendali
1) Rumah perangkat kendali harus dari plat alumunium tebal 2mm.
2) Dilengkapi dengan pintu yang dadpat dibuka dan dikunci.
3) Mempunyai tempat panel-panel dan kendali lampu lalu lintas.
4) Mempunyai lubang ventilasi udara yang dilengkapi penyaring udara dan anti bocor terhadap air hujan.
5) DIlenkapi kotak kendali manual yang dipasang pada bagian luar rumah perangkat kendali yang mempunyai pintu yang terkunci dan terpisah dari pintu utama kendali.

C. Perangkat Kendali
1) Perangkat kendali harus dibuat dari komponen-komponen elektronik aktif maupun pasif, papan sirkuit tercetak (PCB) dan elektronika penuh serta rangka yang mempunyai ketahanan suhu 5 derajar s/d 70 derajat dengan kelembaban nisbi maksimum 95%
2) Semua IC harus terpasang melalui soket IC (tidak terpatri langsung) untuk kemudahan pemeliharaan dengan socket berkualitas tinggi dengan penjepit ganda.
3) Semua modul peralatan harus dilapisi dengan bahan yang dapat menghindarkan terjadinya konduktivitas yang tidak dikehendaki akibat endapan debu carbon
4) Rangka kendali harus dibuat dari bahan besi siku anti karat, konstruksinya harus simetris dan halus.
5) Disain perangkat kendali harus sedemikian rupa sehingga menjadi modul-modul yang mudah dirawat untuk perbaikan dan pengembangan.
6) Setiap modul harus mempunyai panel indikator yang mudah dilihat

D. Rumah perangkat Lampu Aspek
1) Rumah (kotak) dan topi yang menempel pada penutup depan dengan kententuan :
a) bahan dari plat alumunium dengan tebal 20mm.
b) Bentuk setiap aspek box (kotak) lampu harus sama sehingga daat dipetukarkan tempatnya dalam susunan dua atau tiga aspek.

2) Sistem potik terdiri dari
a) Reflektro dari bahan ahxrymium yang mengkilat atau bahan lain yang tidak berkarat dan tidak pudar mengkilatnya.
b) Lensa dffuse yang dilengkapi karet penahan, bahan dari kaca tahan papas dengan warna merah, kuning ambar atau hijau anti effek phantom.

E. Perangkat Lampu Aspek
1) Lampu aspek harus menggunakan lampu pijar yang dirancang khusus untuk alat pemberi isyarat lalu lintas dengan tegangan 220 Volt daya minimal 60 watt dengan umur hidup (life time) minimal 50.000 Jam atau lampu halogen dengan pengubah tegangan 220 Volt.
2) Lampu LED, yang dirancang khusus untuk pemberi isyarat lalu lintas, bekerja pada tegangna 24 volt DC, dengan tampilan warna yang merata, tingkat kecerahan minimal 300 candle (cd) untuk 20 cm dan 500 candle (cd) untuk 30 cm, serta umur hidup (lifetime) minimal 50.000 jam. DIlengkapi dengan pengaman arus lebih.

F. Kendali (Controller)
1) Kendali utama (Master Controller) memiliki 8 signal grup, 4 program tetap, 1flashing serta 10 plan Wireless (!0 perubahan program perhari)
2) Kendali bantu (Slave Controller) Kapasitas 3 signal dan daya output 100 Watt/signal

G. Lampu Isyarat Aspek
1) Ukuran : Ø 20-30 cm
2) Jenis : Lampu Hemat Energi
3) Efisiensi : 7- lumens/
4) Umur Teknis : minimal 5000 jam
5) jaminan pemakaian : 3 tahun

H. Tiang Lampu
1) Tiang Lengkung pipa Besi Ø 6″ + Ø 4″ + Ø 3″ tinggi 5,5 m.
2) Tiang Lurus pipa Besi Ø 4″ tinggi 3,5 m.
3) Patok Pengaman Pipa Galvanis Ø 4″.
4) Box Besi Uk. 300 x 300 x 300 mm, tbl 10mm dipasang diatas plat tebal 10 mm ukuran 500 x 500 mm untuk tempat batteray.
5) Pondasi tiang lampu beton bertulang 600 x 600 x 1000 mm.
6) Pondasi patok pengaman beton 200 x 200 x 700 mm
7) Patok Pengaman Ø 4″ tinggi 800 mm dari permukaan tanah.
8) Penyangga Modul Solar Cell
9) Umur Teknis : ≥ 20 tahun

I. Perangkat alat pendeteksi kendaraan ( Vehicle Detector)
Dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan kendaraan pada jalur jalan yang telah ditentukan dengan syarat dan ketentuan :
1) Dapat difungsikan sebagai pendeteksi kendaraan dan /atau kecepatan kendaraan;
2) Dapat dipasang diatas jalan (overhead) dan di permukaan jalan;
3) Menggunakan metoda deteksi berbasis gambar (video)
4) Proses deteksi kendaraan dilakukan oleh aplikasi software;
5) Memiliki kemampuan mendeteksi, minimal 4 (empat) zone deteksi;
6) Output deteksi berupa gap dan occupancy.

J. Perangkat Display info Simpang
Dipergunakan untuk memberikan informasi kepada pengguna jalan, dengan syarat dan ketentuan:
1) Cara pemasangan pada tiang overhead APILL;
2) Memberikan informasi dalam bentuk rangkaian huruf, angka atau symbol;
3) Dapat menjadi salah satu system APILL Terkoordinasi (ATCS);
4) Memberikan informasi hitung mundur (5 – 7 detik) pada saat menjelang perubahan lampu merah ke hijau pada signal group yang ditentukan, berdasarkan deteksi perubuhan penyalaan lampu dari traffic controller. Contoh informasinya adalah :SIAP SIAP JALAN dan angka;
5) Memenuhi spesifikasi teknis :
a) Jumlah pixel : 48 x 160 pixel (vertical x horizontal);
b) Jarak antara pixel : 10 mm
c) Warna LED : Kuning
d) Jenis LED : Ultra Bright, Oval
e) Tegangan kerja : 170 – 260 VAC
f) Interface data : RS-485, 1200-9600 bps
g) Housing/box : IP65, Outdoor

K.Power Supply
1) Power supply adalah jaringan distribusi PLN ditempatkan tersebut.
2) Untuk menjaga regulasi tegangan supply ke peralatan perlu dilengkapi stabilizer.
3) Arde (Grounding), Pipa untuk arde ditanam disamping Rumah Perangkat Kendali Lampu Pengatur Lalu Lintas dengan kedalaman minimal 4 meter atau sampai didapat air dan nilai tahanannya kurang dari atau sama dengan 10 Ohm